Dalam kehidupan keluarga, tidak semua pengeluaran dapat direncanakan jauh-jauh hari. Ada kalanya kendaraan membutuhkan perbaikan mendadak, rumah mengalami kerusakan, penghasilan keluarga berkurang, atau muncul kebutuhan penting lainnya yang sebelumnya tidak masuk dalam anggaran bulanan.
Situasi seperti inilah yang membuat dana darurat menjadi bagian penting dalam perencanaan keuangan keluarga.
Dana darurat adalah sejumlah dana yang secara khusus disiapkan untuk menghadapi kebutuhan tidak terduga. Tujuannya bukan untuk belanja rutin, liburan, atau membeli barang yang sudah direncanakan, tetapi sebagai cadangan ketika keluarga menghadapi kondisi yang membutuhkan dana dalam waktu relatif cepat.
Bank Indonesia dalam materi edukasi keuangannya menyarankan keluarga yang sudah memiliki tanggungan menyiapkan dana darurat minimal sekitar enam kali pengeluaran bulanan. Untuk individu yang belum memiliki tanggungan, panduan tersebut menyebut minimal sekitar tiga kali pengeluaran bulanan.
Namun, membangun dana darurat tidak berarti keluarga harus langsung memiliki jumlah sebesar itu sekaligus. Dana dapat dikumpulkan secara bertahap sesuai kemampuan.
Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mulai membangun dana darurat keluarga.
1. Hitung Pengeluaran Pokok Keluarga Setiap Bulan
Langkah pertama adalah mengetahui berapa sebenarnya kebutuhan keluarga dalam satu bulan.
Banyak orang mengetahui jumlah penghasilannya, tetapi belum tentu mengetahui secara jelas berapa pengeluaran penting yang harus dibayar setiap bulan.
Mulailah dengan mencatat kebutuhan seperti:
- Makanan dan kebutuhan rumah tangga
- Listrik dan air
- Transportasi
- Pendidikan anak
- Cicilan atau kewajiban rutin
- Komunikasi dan internet
- Kebutuhan kesehatan
- Pengeluaran pokok lainnya
Dalam menghitung dana darurat, prioritaskan pengeluaran yang benar-benar diperlukan untuk menjaga kebutuhan keluarga tetap berjalan.
Sebagai contoh sederhana, apabila kebutuhan pokok keluarga rata-rata Rp5 juta per bulan, maka target enam kali pengeluaran bulanan berarti sekitar Rp30 juta.
Perhitungan sederhananya:
Rp5 juta × 6 bulan = Rp30 juta
Angka tersebut bukan berarti harus langsung tersedia sekarang. Gunakan sebagai target yang ingin dicapai secara bertahap.
Setiap keluarga memiliki kondisi berbeda. Keluarga dengan satu sumber pendapatan mungkin membutuhkan cadangan yang berbeda dibanding keluarga yang memiliki beberapa sumber penghasilan. Begitu pula keluarga dengan anak atau tanggungan lain.
Karena itu, jadikan jumlah tersebut sebagai panduan awal dan sesuaikan dengan kondisi keluarga masing-masing.
2. Mulai dari Target Kecil yang Realistis
Melihat target dana darurat puluhan juta rupiah terkadang membuat seseorang merasa sulit untuk memulainya.
Padahal, yang paling penting bukan langsung mencapai target akhir, tetapi membangun kebiasaan menyisihkan dana secara rutin.
Misalnya target dana darurat keluarga adalah Rp30 juta.
Daripada memikirkan Rp30 juta sekaligus, target tersebut bisa dibagi:
Target pertama: Rp5 juta
Target kedua: Rp10 juta
Target berikutnya: Rp15 juta
dan seterusnya sampai target utama tercapai.
Cara seperti ini membuat prosesnya terasa lebih terukur.
Kemudian tentukan jumlah yang dapat disisihkan setiap bulan.
Misalnya:
- Rp250.000 per bulan
- Rp500.000 per bulan
- Rp1.000.000 per bulan
Tidak ada satu nominal yang cocok untuk semua keluarga. Pilih jumlah yang tidak membuat kebutuhan pokok terganggu tetapi masih cukup konsisten untuk membantu dana darurat bertumbuh.
Prinsip yang dapat digunakan adalah:
sisihkan terlebih dahulu, bukan hanya menunggu uang tersisa di akhir bulan.
Bank Indonesia juga mendorong masyarakat membangun kebiasaan menyisihkan dana cadangan sebagai bagian dari pengelolaan keuangan.
Konsistensi akan lebih bermanfaat dibanding menentukan target terlalu besar tetapi hanya dilakukan satu atau dua bulan.
3. Pisahkan Dana Darurat dari Uang Harian
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menyimpan dana darurat di tempat yang sama dengan uang untuk kebutuhan sehari-hari.
Ketika semuanya tercampur dalam satu saldo, akan lebih sulit mengetahui mana uang yang memang boleh digunakan dan mana yang sebenarnya sedang disiapkan untuk kondisi darurat.
Karena itu, sebaiknya dana darurat memiliki tempat tersendiri.
Bank Indonesia menyarankan dana darurat dipisahkan dari rekening gaji dan ditempatkan pada produk atau instrumen yang dapat diakses ketika benar-benar dibutuhkan.
Pemisahan ini membantu keluarga melihat perkembangan dana dengan lebih jelas dan mengurangi kemungkinan dana terpakai untuk kebutuhan yang sebenarnya tidak mendesak.
Misalnya keluarga memiliki:
Dana kebutuhan bulanan
untuk belanja rumah tangga dan pembayaran rutin.
Dana tujuan tertentu
untuk pendidikan, liburan, renovasi, atau kebutuhan lain yang sudah direncanakan.
Dana darurat
khusus untuk kondisi yang tidak direncanakan.
Dengan pembagian yang jelas, pengelolaan keuangan keluarga menjadi lebih mudah dipahami.
LPD Desa Adat Bualu menyediakan layanan Tabungan sebagai salah satu layanan keuangan bagi Krama. Untuk mengetahui pilihan tabungan dan ketentuan yang sesuai dengan kebutuhan pengelolaan dana, Krama dapat menghubungi LPD Desa Adat Bualu untuk mendapatkan informasi produk terbaru.
4. Manfaatkan Pendapatan Tambahan untuk Mempercepat Target
Dana darurat tidak harus seluruhnya berasal dari pendapatan rutin bulanan.
Ketika keluarga mendapatkan pemasukan tambahan, sebagian dapat dialokasikan untuk mempercepat pembentukan dana darurat.
Contohnya:
- Tunjangan Hari Raya
- Bonus tahunan
- Insentif kerja
- Pendapatan tambahan
- Hasil usaha di luar pendapatan utama
Bank Indonesia juga menyebut pendapatan nonrutin seperti THR dan bonus tahunan dapat digunakan untuk membantu mempercepat pengumpulan dana darurat.
Misalnya seseorang rutin menyisihkan Rp500.000 setiap bulan.
Dalam satu tahun:
Rp500.000 × 12 = Rp6 juta
Kemudian ketika mendapatkan bonus atau THR, ia menambahkan Rp3 juta ke dana tersebut.
Total dana yang berhasil dikumpulkan menjadi Rp9 juta.
Artinya, pendapatan tambahan dapat membantu keluarga mencapai target lebih cepat tanpa harus terlalu membebani anggaran bulanan.
Tidak harus seluruh bonus dimasukkan ke dana darurat. Keluarga tetap dapat membaginya sesuai kebutuhan. Yang terpenting adalah memiliki keputusan yang jelas sebelum uang tersebut habis digunakan untuk pengeluaran lain.
5. Tentukan Kapan Dana Darurat Boleh Digunakan
Memiliki dana darurat saja belum cukup. Keluarga juga perlu memahami kapan dana tersebut boleh dipakai.
Sebelum mengambilnya, coba tanyakan:
Apakah kebutuhan ini tidak direncanakan?
Apakah kebutuhan ini penting?
Apakah harus dibayar dalam waktu dekat?
Apakah tidak ada pos anggaran lain yang memang disiapkan untuk kebutuhan tersebut?
Contoh kebutuhan yang dapat termasuk keadaan darurat bergantung pada kondisi keluarga, misalnya:
- Perbaikan penting pada rumah
- Kendaraan utama keluarga rusak dan dibutuhkan untuk bekerja
- Kehilangan atau berkurangnya penghasilan
- Kebutuhan keluarga mendesak yang tidak tersedia dalam anggaran rutin
Sebaliknya, dana darurat sebaiknya tidak digunakan hanya karena ada promo, ingin mengganti smartphone, ingin berlibur, atau membeli barang yang sebenarnya dapat ditunda.
Kebutuhan seperti pendidikan tahunan, hari raya, pajak kendaraan, atau liburan juga sebenarnya dapat diperkirakan. Karena itu, lebih baik dibuatkan pos tabungan tersendiri daripada menggunakan dana darurat.
Semakin jelas aturan penggunaan dana darurat dalam keluarga, semakin mudah menjaganya tetap tersedia ketika benar-benar diperlukan.
Setelah Digunakan, Bangun Kembali
Dana darurat memang dibuat untuk digunakan ketika keadaan darurat terjadi.
Jadi apabila suatu hari dana tersebut harus digunakan, bukan berarti rencana keuangan keluarga gagal.
Justru dana itu sudah menjalankan fungsinya.
Yang perlu dilakukan setelah kondisi kembali stabil adalah mulai mengisinya kembali secara bertahap.
Misalnya keluarga sebelumnya memiliki dana darurat Rp30 juta, kemudian Rp8 juta digunakan untuk kebutuhan mendesak.
Sisa dana menjadi Rp22 juta.
Setelah kondisi memungkinkan, keluarga dapat kembali menyisihkan sebagian pendapatan sampai jumlahnya kembali mendekati target.
Cara ini membantu dana darurat tetap menjadi perlindungan keuangan yang dapat digunakan kembali di masa depan.
Dana Darurat Berbeda dengan Tabungan Tujuan
Hal lain yang penting dipahami adalah dana darurat tidak sama dengan semua jenis tabungan.
Jika keluarga sedang mengumpulkan uang untuk:
- Biaya pendidikan
- Membeli kendaraan
- Renovasi rumah
- Upacara atau kebutuhan keluarga yang sudah direncanakan
- Liburan
- Modal usaha
maka dana tersebut memiliki tujuan dan waktu penggunaan yang relatif dapat diperkirakan.
Dana darurat berbeda karena diperuntukkan bagi kebutuhan yang belum diketahui kapan akan muncul.
Karena itu, jangan mencampurkan semuanya dalam satu pos.
Memiliki beberapa tujuan keuangan yang terpisah akan membantu keluarga membuat keputusan dengan lebih jelas ketika suatu kebutuhan muncul.
Tidak Perlu Menunggu Penghasilan Besar untuk Memulai
Dana darurat sering dianggap hanya bisa dibuat apabila seseorang memiliki penghasilan besar.
Padahal, membangun dana darurat lebih banyak berkaitan dengan kebiasaan dan konsistensi.
Jika saat ini hanya bisa menyisihkan jumlah kecil, mulailah dari jumlah tersebut.
Rp10.000 sehari pun jika dilakukan secara konsisten akan lebih baik daripada terus menunggu waktu yang dianggap ideal untuk mulai menabung.
Setelah kondisi keuangan membaik atau penghasilan bertambah, jumlah yang disisihkan dapat ditingkatkan secara bertahap.
Yang paling penting adalah membuat dana darurat menjadi bagian dari perencanaan keuangan keluarga, bukan sekadar uang yang kebetulan tersisa.
Mulai dari Kondisi Keluarga Anda Hari Ini
Setiap keluarga memiliki kebutuhan, jumlah tanggungan, penghasilan, serta pengeluaran yang berbeda. Karena itu, tidak perlu membandingkan jumlah dana darurat dengan keluarga lain.
Mulailah dari empat langkah sederhana:
Hitung pengeluaran pokok bulanan.
Tentukan target dana darurat.
Sisihkan dana secara rutin dan pisahkan dari uang sehari-hari.
Gunakan hanya ketika benar-benar diperlukan.
Dana darurat mungkin tidak terasa manfaatnya setiap hari. Namun ketika keluarga menghadapi kebutuhan yang datang tanpa rencana, keberadaan dana tersebut dapat membantu kondisi keuangan tetap lebih terkendali.
OJK juga menempatkan pembentukan dana darurat sebagai salah satu bagian dari perencanaan keuangan, karena dana tersebut dapat digunakan ketika muncul kebutuhan yang sangat mendadak.
Tidak harus langsung besar dan tidak harus selesai dalam waktu singkat.
Mulailah dari kemampuan yang ada, lakukan secara rutin, dan evaluasi kembali target ketika kebutuhan keluarga berubah.
Untuk informasi mengenai layanan Tabungan dan pilihan pengelolaan dana yang tersedia, Krama dapat menghubungi LPD Desa Adat Bualu dan mendapatkan informasi sesuai ketentuan produk terbaru.
LPD Desa Adat Bualu
Dekat di desa, dekat di hati.